Pemadaman Listrik Bergulir Tanpa Pemberitahuan Diduga Memicu Kemarahan Warga, Termasuk Krisis BBM dan Harga Sawit Anjlok

Pasaman Barat, Sumbarjaya.com ~ Ketidaknyamanan dan kekecewaan mendalam dirasakan seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Pasaman Barat akibat buruknya pelayanan yang diduga diberikan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Pemadaman listrik secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan diduga kembali terjadi dan berulang kali, membuat warga bertanya-tanya akan kinerja perusahaan listrik negara tersebut.
Seperti yang terjadi kemarin sore menjelang waktu Maghrib, aliran listrik di seluruh wilayah Kota Simpang Empat dan sekitarnya padam mendadak tanpa ada informasi atau edaran sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat suasana kota yang biasanya ramai seketika berubah menjadi gelap gulita dan mencekam.
Warga menyebut suasana saat itu bagaikan “kota mati” atau kuburan tanpa manusia, di mana tidak ada satu pun penerangan jalan maupun penerangan rumah yang menyala. Kehidupan kota lumpuh total hanya mengandalkan cahaya bulan atau lampu senter milik warga.

Pemadaman itu ternyata berlangsung sangat lama, yakni mencapai enam jam lamanya, baru kemudian arus listrik kembali menyala hingga keesokan harinya.
Namun, di hari Sabtu sore ini, tepatnya sehari setelah kejadian, hal yang sama terulang kembali. Listrik kembali padam secara mendadak, memicu banjir laporan dan keluhan yang berdatangan dari berbagai penjuru kecamatan.
Warga pun melontarkan pertanyaan keras, “Ada apa sebenarnya dengan PLN? Kenapa pelayanan kami semakin memburuk dan tanpa kepastian?”
Beban berat masyarakat Pasaman Barat ternyata tidak hanya tertumpah pada masalah kelistrikan saja. Sebelumnya, ketidaknyamanan diduga serupa dirasakan dalam pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar.
Warga mengaku Indonesia sempat digegerkan dengan antrean panjang kendaraan di SPBU yang berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Fenomena yang sangat janggal pun terlihat jelas oleh mata masyarakat. Stok minyak disebut-sebut terus masuk ke daerah ini setiap malamnya, namun anehnya, begitu pagi tiba, persediaan BBM tersebut seolah-olah menghilang ditelan bumi seperti siluman.
Akibat kelangkaan BBM yang tidak kunjung selesai itu, dampak buruknya kini merembet ke sektor ekonomi utama masyarakat Pasaman Barat, yaitu perkebunan kelapa sawit.
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kini tercatat terus merosot tajam dari hari ke hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran luar biasa di kalangan petani, yang mayoritas menggantungkan hidup dan penghasilan dari tanaman andalan daerah ini.
Bapak Y, salah satu tokoh masyarakat sekaligus petani di Nagari Lingkuang Aua Baru, Kecamatan Rimbo Janduang, mengungkapkan keprihatinan yang sangat mendalam. Di tengah berbagai masalah pelayanan publik yang terjadi, nasib petani sawit seolah semakin terpinggirkan.
“Harga sawit turun terus setiap hari, kami para petani sudah mulai sangat resah dan bingung. Jika harga sawit terus turun seperti ini, dengan apa nanti kami bisa menyekolahkan anak-anak kami?
“Dari mana kami cari biaya hidup? Sawit adalah satu-satunya harapan kami, tapi sekarang harganya jatuh dan ditambah lagi listrik sering mati, kami rasanya sudah tidak sanggup lagi menanggung beban ini,” ungkap Bapak Y dengan nada kecewa dan khawatir.
Warga kini menuntut kejelasan dan tanggung jawab penuh dari pihak terkait, baik manajemen PLN maupun pemerintah daerah, untuk segera membenahi sistem pelayanan dan pasokan energi.
Masyarakat berharap masalah pemadaman listrik yang sembarangan dan krisis pasokan BBM segera diatasi, sebelum nanti berdampak lebih luas lagi terhadap ketahanan ekonomi dan sosial warga Pasaman Barat. (Adi)
