Mengenang 1926, Membangun Ketangguhan di Tahun 2026, Padang Panjang Gelar Rangkaian Refleksi Satu Abad Gempa Bumi

Padang Panjang, Sumbarjaya.com ~ Pemerintah Kota Padang Panjang bersama berbagai elemen masyarakat menggelar serangkaian kegiatan refleksi bertajuk “Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926-2026”.
Agenda ini bertujuan tidak hanya untuk mengenang peristiwa sejarah gempa dahsyat yang pernah melanda daerah tersebut, tetapi juga sebagai momentum strategis untuk memperkuat edukasi mitigasi bencana demi mewujudkan visi “Kota Padang Panjang Siaga Bencana”.
Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan sepanjang bulan Juni 2026 di berbagai titik strategis di Kota Padang Panjang, termasuk pusat pemerintahan, sekolah-sekolah, hingga rumah ibadah. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada pertengahan bulan, Jumat (26/6/2026).
Bertepatan dengan tanggal historis terjadinya gempa bumi tahun 1926. Lokasi-lokasi dipilih untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dari pelajar hingga tokoh adat dan agama.
Kegiatan ini melibatkan multipihak, mulai dari Pemerintah Kota Padang Panjang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), komunitas pegiat kebencanaan, akademisi, organisasi pemuda, hingga pengurus masjid dan musala.
Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama bahwa mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas kolektif seluruh warga kota.
Berbagai aktivitas edukatif dan reflektif disajikan dalam agenda ini, antara lain:
Pameran Sejarah & Mitigasi: Menampilkan dokumentasi foto dan artefak dampak gempa 1926 serta teknologi terbaru deteksi dini bencana.
Simulasi Evakuasi Terpadu : Melibatkan siswa sekolah dan pegawai instansi pemerintah untuk melatih refleks penyelamatan diri.
Diskusi Publik & FGD: Menghadirkan ahli geologi dan sejarawan untuk membedah pelajaran dari masa lalu dan strategi menghadapi risiko di masa depan.
Gerakan Masjid Siaga Bencana: Sosialisasi peran rumah ibadah sebagai titik kumpul dan pusat informasi saat keadaan darurat.
Peringatan satu abad ini bukan sekadar ritual kenangan, melainkan panggilan kesadaran. Gempa 1926 mengajarkan betapa rentannya infrastruktur dan kehidupan sosial jika tidak siap menghadapi guncangan alam.
Dengan populasi dan bangunan yang semakin padat di tahun 2026, edukasi mitigasi menjadi kunci utama untuk meminimalisir korban jiwa dan kerugian materiil.
“Kita belajar dari sejarah agar tidak mengulang tragedi. Kesiapsiagaan adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap nyawa,” ujar salah satu panitia pelaksana.
Melalui pendekatan yang humanis dan edukatif, Pemkot Padang Panjang berharap budaya siaga bencana tertanam kuat dalam keseharian masyarakat. Harapannya, setiap individu memahami jalur evakuasi, titik kumpul, dan langkah pertolongan pertama.
Dengan demikian, identitas Padang Panjang tidak hanya sebagai Kota Literasi dan Religius, tetapi juga sebagai model kota tangguh bencana (disaster-resilient city) di Sumatera Barat. (Edy)
