Wabub Solok : Peran Kita Bersama Adalah Menekan Pekat dan Narkoba di Kalangan Pelajar

Kab. Solok, Sumbarjaya.com ~ Pemerintah Kabupaten Solok terus menunjukkan komitmennya dalam menekan maraknya penyakit masyarakat (pekat) dan penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.

Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di MTsN 7 Solok, Tanjung Balik, Kecamatan X Koto Diatas, Senin (13/4/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Solok H. Candra, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok H. Zulkifli, unsur Forkopimcam, kepala sekolah dan madrasah, majelis guru, penyuluh agama, serta para tokoh masyarakat se-Kecamatan X Koto Diatas.

Dalam arahannya, Wabup menegaskan bahwa upaya menekan penyakit masyarakat dan penyalahgunaan narkoba tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Peran bersama menjadi kunci utama dalam menekan pekat dan narkoba, khususnya di kalangan pelajar. Tidak cukup hanya pemerintah, tetapi juga perlu dukungan dari keluarga, sekolah, tokoh adat, dan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan sosialisasi tersebut sebagai langkah konkret dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda agar tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang yang dapat merusak masa depan.

Lebih lanjut, Wabup Candra membagikan pengalaman keberhasilan salah satu nagari dalam menekan angka penyakit masyarakat melalui penerapan peraturan Nagari (perna) berbasis kearifan lokal.

Dalam aturan tersebut, aktivitas hiburan malam seperti orgen tunggal dilarang karena dinilai kerap menjadi pemicu berbagai persoalan sosial.

“Melalui kesepakatan niniak mamak, diterapkan sanksi sosial bagi pelanggar. Mereka tidak dihadiri dalam kegiatan adat. Sanksi ini terbukti lebih efektif karena menyentuh langsung nilai sosial di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok dalam kata sambutannya menyoroti fenomena degradasi moral yang terjadi tidak hanya pada peserta didik, tetapi juga di kalangan tenaga pendidik.

Menurutnya, berbagai kasus pelanggaran etika yang terjadi belakangan ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan agar tidak hanya berfokus pada capaian akademik semata, tetapi juga memperkuat pembinaan karakter dan spiritual.

“Lemahnya mental dan keimanan menjadi faktor utama yang memicu terjadinya penyimpangan, meskipun pelaku memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda agar memiliki benteng moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, serta seluruh elemen masyarakat dalam mencegah berkembangnya penyakit masyarakat dan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Solok.

Dengan adanya kolaborasi yang solid, generasi muda diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, berkarakter, dan terbebas dari pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan bangsa. (Yef)