Dugaan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Solok Selatan Kembali Menjadi Perhatian Publik

Solok Selatan, Sumbarjaya.com ~ Dugaan Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Solsel 2025 kembali menjadi perhatian publik. Sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini, tercatat sebanyak 30 laporan kasus di Kabupaten Solok Selatan.

Angka tersebut memunculkan kekhawatiran karena masih menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan tren tahun-tahun sebelumnya.

Pantauan wartawan Sumbarjaya.com di lapangan. Menurut data yang dirilis Dinas P2KBPP&PA Solok Selatan, sepanjang 2024 ada 36 kasus kekerasan yang menimpa perempuan maupun anak, Kamis (28/8/2025).

Sementara itu, hingga Agustus 2025 sudah mencapai 30 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Solsel 2025 ini. Hanya berselisih enam kasus dari total setahun sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa permasalahan tersebut tidak bisa dipandang remeh.

Wakil Ketua II P2TP2A Solok Selatan, Fitri Syamsurizaldi, menjelaskan bahwa fenomena ini ibarat gunung es. “Yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil, sementara persoalan yang tidak terlaporkan jauh lebih besar dan kompleks,” ujarnya. 

Ia menilai, masih sedikitnya kasus yang masuk laporan resmi bukan berarti permasalahan berhenti. Rendahnya tingkat pelaporan sering dipengaruhi faktor budaya. 

“Salah satu kendala adalah masih adanya anggapan tabu di tengah masyarakat ketika harus melaporkan kekerasan atau pelecehan, terutama dalam lingkup rumah tangga,” jelas Fitri.

Meski demikian, potensi peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Solsel 2025, dapat dimaknai secara positif. Menurutnya, semakin banyak laporan menunjukkan adanya kesadaran masyarakat untuk berani bersuara.

Namun, ia tetap menegaskan bahwa angka resmi belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. “Sedikit atau bahkan tidak ada laporan bukan berarti tidak ada masalah. Justru bisa jadi permasalahan itu tetap ada, tetapi tidak terungkap,” tambahnya.

Data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Solsel 2025 tersebut memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi pemerintah daerah dan masyarakat Solok Selatan dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Di satu sisi, keberanian melapor semakin terlihat, namun di sisi lain, hambatan budaya dan rasa takut masih menjadi tembok penghalang mereka. (Yef)