Sosok Adesrizal Wali Nagari Sungai Durian Tiga Periode, Bidik Legislatif 2029

Kab. Solok, Sumbarjaya .com ~ Ini sosok Adesrizal kembali menjadi perbincangan publik. Setelah tiga periode memimpin Nagari Sungai Durian.

Diketahui ia menyatakan keseriusannya untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi dengan membidik kursi legislatif pada Pemilu 2029 mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya sebagai Wali Nagari Sungai Durian, Kamis (23/4/2026).

Adesrizal lahir di Nagari Sungai Durian, 53 tahun yang lalu. Ia tumbuh dan besar di tengah masyarakat yang kini ia pimpin, sehingga memahami secara mendalam berbagai persoalan warga.

Pendidikan formalnya ditempuh dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Kota Solok. Perjalanan kepemimpinannya terbilang panjang dan lintas generasi.
Ia telah menjabat sebagai wali nagari selama tiga periode,

Dimulai sejak masa kepemimpinan Gamawan Fauzi saat menjabat sebagai bupati, hingga berlanjut ke masa kepemimpinan Jon Firman Pandu saat ini.

Selama menjabat, Adesrizal dikenal aktif mendorong pembangunan, mulai dari infrastruktur dasar hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Namun, ia juga menyoroti masih adanya ketimpangan pembangunan yang dipengaruhi oleh minimnya keterwakilan di tingkat legislatif.

Ia mengungkapkan, pada Pemilu Legislatif 2024 lalu, empat nagari yakni Siaro aro, Taruang-Taruang, Bukit Bais, dan Sungai Durian tidak memiliki perwakilan di lembaga legislatif.

Kondisi tersebut, menurutnya, sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

“Pada Pemilu Legislatif 2024 kemarin, dari Nagari Siaro Aro, Taruang-Taruang, Bukit Bais, dan Sungai Durian tidak ada perwakilan. Ini sangat menyentuh bagi empat nagari tersebut,” ujarnya.

Menurut Adesrizal, ketiadaan perwakilan tersebut berdampak langsung terhadap akses dan percepatan pembangunan di wilayah-wilayah tersebut.

Ia menilai, tanpa adanya figur yang memperjuangkan aspirasi secara langsung di legislatif, berbagai kebutuhan masyarakat kerap terhambat dalam proses penganggaran dan pengambilan kebijakan.

“Sebagai wali nagari tiga periode, saya melihat langsung bagaimana pentingnya pemerataan pembangunan. Tanpa adanya perwakilan di legislatif, kita akan menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pembangunan,” tambahnya.

Keprihatinan inilah yang semakin menguatkan niatnya untuk maju pada Pemilu 2029. Ia berharap dapat menjadi jembatan aspirasi bagi nagari-nagari yang selama ini belum terwakili secara maksimal.

Di sisi lain, terkait kendaraan politik, Adesrizal mengaku masih menjalin komunikasi dengan sejumlah partai politik.

Ia menegaskan bahwa keputusan akan diambil dengan mempertimbangkan kesamaan visi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Kita lihat perkembangan ke depan. Yang jelas, kendaraan politik itu penting, tapi yang lebih utama adalah bagaimana tujuan untuk memperjuangkan masyarakat bisa sejalan dengan partai yang dipilih,” ungkapnya.

Dukungan dari masyarakat pun mulai mengalir, terutama dari empat nagari yang disebutkan.

Banyak yang menilai kehadiran Adesrizal di tingkat legislatif nantinya dapat menjadi harapan baru dalam memperjuangkan pemerataan pembangunan.

Dengan pengalaman panjang sejak era Gamawan Fauzi hingga masa Jon Firman Pandu, Adesrizal dinilai memiliki bekal kuat untuk tampil sebagai representasi masyarakat nagari.

Ia sekaligus membawa isu pemerataan pembangunan menjadi agenda utama di tingkat legislatif pada 2029 mendatang. (Yef)