Terunggah Sebuah Potret Keluarga Miskin, Siapa Yang Peduli dengan Mereka?

Padang Pariaman, Sumbarjaya.com ~ Di balik rimbunnya perkebunan di Korong Kampung Paneh, Nagari Aia Tajun, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, terunggah sebuah potret keluarga karena miskin, siapa yang peduli dengan mereka.
Terlihat menyayat hati. Fatmawati bersama suaminya Joneidi, dan lima orang anak mereka terpaksa bertahan hidup di sebuah rumah semi permanen yang kondisinya nyaris roboh, Rabu (7/1/2026).
Rumah berukuran 6×7 meter itu jauh dari kata layak. Lantainya masih beralaskan tanah, sementara dinding triplek, sudah lapuk dan berlubang. Pintu depan sudah keropos dimakan rayap, bahkan pengait jendela kamar pun telah lepas dari bingkainya.
Kondisi ini paling parah terasa saat hujan turun; atap yang bocor membuat air menggenang hingga lantai tanah berubah menjadi becek.
“Kalau hujan, kami tidak bisa tidur. Air masuk semua ke dalam rumah,” tutur Fatmawati.
Bangunan itu sebenarnya hasil bantuan pemerintah daerah senilai Rp15 juta pada 2015 silam yang didirikan di atas tanah warisan.
Namun, tidak pernah ada lagi bantuan perbaikan. Harapan untuk memugar rumah hanya menjadi angan karena pendapatan Joneidi sebagai buruh harian lepas hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah anak.
Apalagi, salah satu anak mereka memerlukan perhatian medis khusus karena gangguan kesehatan.
Wali Nagari Aia Tajun, Sahribul Hamadi, mengakui adanya persoalan klasik dalam sistem bantuan sosial, yakni masalah pendataan.
Meski membenarkan Fatmawati adalah warganya, ia belum bisa memastikan mengapa keluarga tersebut belum tersentuh bantuan bedah rumah atau program kesejahteraan lainnya selain PKH.
“Bantuan itu berdasarkan data. Jika data masuk ke nagari, pasti akan kami usulkan. Saya akan segera mengecek dan memastikan data keluarga Ibu Fatmawati agar bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan,” ujar Sahribul.
Keluarga Fatmawati adalah satu dari sekian banyak potret ‘lubang besar’ dalam sistem perlindungan sosial di daerah.
Harapan mereka kini bertumpu pada kepekaan birokrasi di tingkat korong dan nagari agar rumah yang nyaris roboh itu bisa segera diperbaiki sebelum bencana datang menjemput orang orang yang tersayang di keluarga mereka. (Jef)
